Dear Pak Wisnu
Wkkww kalau di milis sebelah jago-jago semua soalnya pak.
Saya pribadi jika bicara TA masih menganggap perlu backtest, namun disisi lain, saya juga percaya bahwa suatu trading system tetap membutuhkan mata dan akal (karunia Tuhan),guna menfinalisasi judgement.
Dalam beberapa kesempatan, hanya ada satu perbedaan pendapat, dimana saya percaya bahwa tidak ada trading system yang bisa mengalahkan buy and hold. Hal ini sudah diteliti pada tahun 1970 oleh seorang profesor economy Eugene Fama, dimana telah dilakukan penelitian di market US bahwa pada strong,semistrong dan weak EMH, tetap tidak bisa mengalahkan buy and hold, itu sebabnya fakta membuktikan Warrent Buffet sukses.
Bahkan, telah terbukti secara ilmiah bahwa reksadana di dunia ini di setiap negara hanya 30 % saja yang mampu beat the market, sisa 70 % nya dibawah market. Mereka yang belajar CFA tahu persis hal ini. Tetapi sekali lagi semua akan kembali ke faith and belief masing-masing. Dan sebetulnya pada market yang bearish, adalah wajar kalau porto merah, yang tidak wajar adalah kalau marketnya bull, portonya merah.
Salam.
==========
Best Regards,
Colonel
" Change is the law of life. And those who look only the past or present are certain to miss the future "
From: Wisnu Mobile <wisnu.working@gmail.com>
Sender: amibroker-4-bei@yahoogroups.com
Date: Thu, 24 Mar 2011 23:14:04 +0700
To: <amibroker-4-bei@yahoogroups.com>
ReplyTo: amibroker-4-bei@yahoogroups.com
Subject: [Komunitas AmiBroker] Ketakutan terhadap obyektivitas?
Selamat malam teman-teman,
Beberapa kali saya mengamati diskusi di milis sebelah, dan beberapa kali juga terlibat didalamnya, tetang system-based trading. Persepsi yang saya baca bermacam-macam, beberapa diantaranya:
1. Backtest tidak ada duitnya. Test langsung saja, lebih ok karena pakai duit.
2. Trading dengan sistem, seperti robot, membuat trader jadi malas dan bodoh.
3. Trading gak perlu sistem yang rumit2, tidak perlu ditest macam2, sederhana saja bisa cuan. (Tidak perlu rumitnya setuju, sisanya bad jokes.)
Cukup heran mengamatinya. Karena:
Sudah jelas backtest itu bukan actual trading. Backtest adalah evaluasi untuk mem-VALIDASI secara statistik, dengan past data, apakah ide trading kita solid. Jadi mengatakan backtest tidak ada duitnya, seperti joke yang buruk.
I don't want to comment too much, too many bad jokes..
Cukup lama saya merenungkan, kenapa muncul persepsi-persepsi seperti itu. Ini mungkin penjelasannya:
1. Ketakutan atas obyektivitas. Takut apabila evaluasi objective, ternyata akan mengatakan konsep kita tidak solid. Dan merasa kehilangan pegangan. Ini fenomena burung unta yang menyembunyikan kepalanya dalam pasir, dalam keadaan terancam. Dia merasa aman, karena tidak melihat ancaman. Padahal serigala sudah duduk dibelakang pantatnya, siap menggigit.
2. Ketakutan atas perlunya kerja keras. Perlu belajar memahami bagaimana men-test sistem dengan benar. Perlu banyak membaca konsep Money Management, Risk Management, dan lainnya. Ini seperti joke waktu masa kecil, semakin banyak belajar semakin banyak lupa, lebih baik sedikit belajar, sedikit lupa. Hehe..
Anyway, life is serious. Trading is serious. Kalau ada yang mau buang-buang uang dengan cara-nya masing-masing, itu hak masing-masing.
Saya memilih untuk tidak membuang-buang uang saya, apalagi uang client.
Salam merenung.
__._,_.___



No comments:
Post a Comment